By : Ari Bimo Prakoso

Pada hari Jumat tanggal 3 Desember 2010 kemarin, 8 orang mahasiswa-mahasiswi Australia yang tergabung dalam Australian Consortium of In-Country Indonesian Studies (ACICIS) melakukan kunjungan lapangan ke Sistem Pompa Air Tenaga Surya (SPATS) di Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Propinsi D.I. Yogyakarta. Mahasiswa-mahasiswi yang berasal dari 4 universitas berbeda itu, melakukan kunjungan dengan tujuan untuk mengevaluasi keberhasilan proyek di Panggang ini dan dibandingkan dengan hasil proyek sistem penyediaan air di Vietnam.

Rombongan berangkat dari kantor ACICIS di dalam kompleks Perumahan Dosen UGM (Dekat Masjid Kampus UGM). Dari sana rombongan menjemput mahasiswa-mahasiswi Australia yang sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kasongan. Dari Kasongan rombongan langsung menuju lokasi SPATS di wilayah Banyumeneng. Sesampainya di lokasi rombongan beristirahat sejenak di rumah Pak Supri, Dukuh Banyum eneng II. Rombongan disambut oleh mahasiswa yang sedang melakukanKKN di lokasi / KAMASE (Komunitas Mahasiswa Sentra Energi) dan oleh Pak Irham selaku pihak dari LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UGM.

Setelah beristirahat sejenak, rombongan berjalan kaki ke sumber air Kaligede untuk melihat lokasi panel surya dan pompa air. Di lokasi ini rombongan disambut oleh Pak Suryanto selaku Ketua Organisasi Pengelola Air Kaligede (OPAKg) dan Pak Tukijo selaku penanggung jawab teknis sistem panel surya. Rombongan berdialog dengan pengurus OPAKg untuk mendapatkan jawaban mengenai latar belakang pembangunan sistem dan bagaimana manfaat yang didapatkan oleh warga.

Pak Suryanto menjelaskan bagaimana beratnya perjuangan warga Banyumeneng I sebelum adanya SPATS di wilayah mereka. Dahulu warga Banyumeneng I, harus membeli air sebanyak Rp 120.000,00 sebulan untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Warga Banyumeneng I yang tidak memiliki uang harus berjalan kurang lebih 1.6 km pulang pergi setiap harinya untuk mendapatkan air. Setelah adanya SPATS warga dapat menikmati air di rumah mereka dengan hanya membayar Rp 15.000 perbulan. “Adanya Sistem Pompa Air Tenaga Surya merupakan bukti nyata dari kerja UGM. Hasilnya bisa dilihat secara nyata,” kata Pak Suryanto.

Setelah puas mendapatkan penjelasan di lokasi rombongan bergerak untuk melihat tandon utama. Rombongan dapat melihat sendiri bagaimana air mengalir dengan deras dari pipa begitu keran dibuka. Dari tandon utama, rombongan bergerak menuju sekretariat OPAKg di rumah Pak Bugiman selaku Bendahara II di OPAKg. Di sini Pak Suryanto menjelaskan struktur organisasi dari OPAKg. OPAKg didampingi oleh KKN UGM dan Dukuh dari Banyumeneng I, II, dan III. Di sini Pak Suryanto menjelaskan bagaimana struktur organisasi dan pembagian kerja dari OPAKg. “Setiap tanggal 30 ada rapat umum yang diselenggarakan di sekretariat OPAKg. Rapat membahas kondisi keuangan OPAKg, permasalahan di sistem distribusi, dan penarikan iuran. Melalui rapat ini kami bisa membahas bagaimana mengatasi permasalahan sendiri,” tutur Pak Suryanto.

Dialog terpaksa berhenti karena sudah masuk waktu Jum’atan. Ketika warga sedang sholat Jum’at, rombongan mahasiswa Australia berpencar untuk melakukan dialog dengan ibu-ibu di rumah bagaimana manfaat dari SPATS bagi kehidupan mereka. Warga cukup terkesan karena sebagian besar mahasiswa-mahasiswi asing itu bisa berbahasa Indonesia. Setelah Jum’atan rombongan mahasiswa Australia pun pamit pulang. Di perjalanan pulang Dr. Philip King, pengurus ACICIS sekaligus selaku ketua rombongan berkata, “Program SPATS di Panggang ini memiliki fokus dan hasil yang jelas dibandingkan KKN di lokasi lain.” Menurut Pak Irham selaku pihak dari LPPM menyatakan bahwa, “Luar biasa sangat baik, semua aset instalasi dan lembaga sosialnya fungsional.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.