Air adalah kebutuhan primer manusia. Tanpa air, tubuh seseorang tidak akan bisa bekerja dengan baik. Oleh karena itu, permasalahan ketersediaan air dalam kehidupan manusia sehari-hari merupakan masalah yang cukup crucial. Begitupula yang terjadi di Dusun Banyumeneng, Desa giriharjo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah ini termasuk daerah yang kekurangan air. Tanahnya berupa tanah karst yang tidak bisa menyimpan air. Kekeringan akan melanda begitu musim kemarau datang. Di musim penghujan, masyarakat menampung air di Penampungan air hujan.  Kebutuhan air minum dan berbagai kebutuhan rumah tangga dipenuhi dari air hujan. Penampungan air hujan akan menampung air hujan sampai musim hujan berakhir. Pada tiga bulan pertama, masyarakat masih bisa memanfaatkan sisa air yang ada di Penampungan air hujan dengan pemakaian yang sangat minim. Ketika air di PAH mulai mengering, masyarakat memenuhi kebutuhan primernya ini dengan membeli air dari tangki-tangki air yang sering datang ke dusun Banyumeneng. Sayangnya, harga air tidaklah murah. Setiap bulannya, satu keluarga mengeluarkan sedikitnya Rp.150.000,00. Yang perlu dicatat, penghasilan rata-rata tiap keluarga hanya berkisar Rp. 300.000,00 tiap bulannya. Hal ini menyebabkan masyarakat Panggang tidak pernah beranjak dari kemiskinan. Sementara itu, di Dusun Banyumeneng terdapat sumber air yang cukup besar dengan debit berkisar 5-10 lt/detik. Sumber air sebesar ini belum tereksploitasi dengan baik dan maksimal. Warga banyumeneng menggunakan jasa PDAM dengan membeli air melalui truk PDAM yang datang. Dengan besarnya pengeluaran untuk membeli air, masyarakat tidak bisa melakukan usaha untuk menambah pemasukan.Jika dilihat dari segi ketersediaan energi, dusun Banyumeneng cukup baik. Masalah krisis bahan bakar fosil dapat terjawab oleh ketersediaan sumber energi terbarukan yang cukup potensial di daerah ini, yaitu angin dan matahari. Salah satu sumber energi tersebut, yaitu energi matahari, memiliki potensi yang sangat bagus, karena dusun Banyumeneng berada pada ketinggian lebih dari 400 m diatas permukaan laut.

Guna menyiasati kebutuhan air masyarakat di Banyumeneng ini, maka KAMASE (Komunitas Mahasiswa Sentra Energi) menawarkan sebuah solusi, yaitu dengan membangun sebuah Sistem Pengangkatan Air Menggunakan Energi Matahari (Solar Water Pumping System). Penggunaan energi matahari ini dikarenakan jauhnya sumber listrik dari sumber air Kaligede yang membuat pompa membutuhkan pasokan energi lain. Dipilihnya matahari sebagai sumber energi dikarenakan matahari merupakan potensi terbesar di Kecamatan Panggang tersebut. Instalasi Sistem Pengangkatan Air ini diwujudkan dalam program KKN Panggang Tahap 2 Universitas Gadjah Mada yang dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu Juli-Agustus 2009. Seluruh kegiatan pembangunan sistem ini dilaksanakan oleh KAMASE dan 18 mahasiswa pilihan lainnya sebagai tim KKN Panggang Tahap 2 bersama masyarakat dusun Banyumeneng. Dari segi pendanaan sendiri, KAMASE memanfaatkan hadiah lomba Mondialogo Engineering Award 2007 yang didukung penuh oleh UNESCO & DAIMLER sebagai sumber dana utama. Selain itu, program Sistem Pengangkatan Air ini juga memperoleh dukungan penuh dari Departemen Pekerjaan Umum, baik berupa materi maupun moral.Pembangunan sistem pengangkatan air ini berbeda dengan kebanyakan sistem yang telah ada. Pada sistem pengangkatan air konvensional dimana letak sumber air jauh dari akses listrik, sistem pengangkatan air menggunakan generator untuk mensuplai listrik ke pompa. Sedangkan pada sistem ini, energi matahari digunakan sebagai sumber energi alternatif. Adapun sistem ini menganut direct use solar water pumping, atau dapat dikatakan sinar matahari akan secara otomatis menggerakkan pompa untuk pengangkatan air. Sistem pengangkatan air ini dibagi menjadi empat bagian penting yaitu:

  • Panel surya sebagai suplai energi (1200 Wp)

  • Pompa sebagai pengangkat air (submersible)

  • Pipa utama menuju tandon sebagai distribusi air (1400m)

  • Tandon utama sebagai tempat mengumpulkan air (5m3)

Sistem ini diwujudkan dalam program KKN UGM Panggang Tahap 2, dimana dalam pembangunannya KAMASE dan beberapa mahasiswa UGM lainnya sebagai tim KKN bersama masyarakat Banyumeneng saling bahu membahu. Dalam pelaksanaannya, instalasi sistem ini terbagi atas 4 tahapan, yaitu:

Instalasi Panel Surya

Panel Surya (PV) merupakan salah satu komponen utama dalam sistem pengangkatan air ini karena energi matahari berperan sebagai sumber energi untuk mengoperasikan pompa. Oleh karena itu, diperlukan sebuah desain sistem panel surya yang efektif dan efisien. Desain ini terdiri dari desain tiang pancang PV dan desain sistem elektrik. Desain tiang pancang bertujuan untuk memperoleh sistem panel surya yang kokoh dan tahan terhadap erosi. Tempat pemasangan panel surya harus minimal dari segala gangguan baik alam, seperti angin, maupun manusia. Sedangkan desain sistem elektrik bertujuan untuk meminimalkan losses daya dari sistem. Berikut gambar kedua desain tiang pancang dan sistem elektrik pada sistem. Program instalasi ini diawali dengan survey penentuan lokasi penempatan panel surya. Posisi yang dipilih harus memenuhi beberapa permintaan, seperti terlindung dari angin dan memperoleh penyinaran matahari yang baik dan maksimal. Setelah dilakukan penentuan titik penempatan panel, dibuat desain tiang pancang panel surya dengan menyesuaikan bentuk lokasi. Pembuatan tiang pancang dilakukan di bengkel. Instalasi tiang pancang sendiri sepenuhnya adalah kerjasama mahasiswa KKN UGM Panggang Tahap 2 dengan masyarakat Banyumeneng. Karena penempatan panel surya cukup jauh yaitu di atas bukit, maka warga dan mahasiswa KKN UGM Panggang Tahap 2 bahu membahu dalam melaksanakannya pembangunannya. Setelah dilakukan pemasangan tiang pancang beserta pondasi, dilanjutkan dengan pengecatan tiang pancang agar lebih tahan terhadap korosi. Pengecatan sendiri menggunakan dua lapis cat. Pemasangan panel surya dilakukan setelah ada pengaman dari jangkauan manusia yaitu pagar duri yang bertujuan meminimalisasi resiko keamanan.

Instalasi Pompa

Pemasangan pompa memerlukan beberapa tahap pengerjaan diantaranya membutuhkan rumah pompa yang ditujukan untuk menjaga kesetabilan pasokan air dan meminimalisasi kotoran yang masuk ke pompa. Rumah pompa sendiri memiliki beberapa komponen di antaranya:

  • pondasi rumah pompa yang bertujuan menjaga rumah pompa tidak amblas akibat penurunan tanah
  • dinding rumah pompa beserta penutup rumah pompa

Setelah semua bagian rumah pompa jadi, barulah dilakukan pemasangan pompa. Pompa yang digunakan dalam sistem ini adalah pompa submersible yang harus berada dalam air, sehingga rumah pompa harus dimasukkan ke dalam tanah. Pompa dipasang dengan cara menggantung dalam rumah pompa.

Instalasi Pemipaan

Instalasi pemipaan merupakan bagian dari pembangunan fisik yang sangat banyak membutuhkan tenaga kerja, karena pada pengerjaannya pemasangan pipa harus menggali tanah dulu untuk menanam pipa. Kesulitan pada instalasi pemipaan ini adalah pada saat penggalian tanah untuk jalur pemipaan dikarenakan hampir seluruh tanahnya adalah bebatuan. Hal ini menyebabkan perlunya dilakukan pengerjaan khusus untuk menggali. Setelah penggalian, pipa dipasang sesuai dengan jalur pemipaan. Jalur pemipaan ini sendiri mencapai 1400 meter dan dikerjakan secara bergotong royong oleh seluruh masyarakat Banyumeneg.

Adapun tahapan pemasangan pipa di antaranya:

  • Pengukuran ulang dan pematokan jalur pemipaan
  • Penggalian jalur pemipaan
  • Pemasangan pipa dan sambungan
  • Pengecekan kebocoran dan penutupan galian

Instalasi Tandon Utama

Pembuatan tandon air utama menjadi tempat pertama mengumpulnya air hasil pemompaan, letak tandon utama sendiri berada diatas perbukitan diatas perumahan warga. Sehingga apabila akan dilakukan distribusi air ke tandon-tandon lainnya tinggal memanfaatkan gravitasi. Pembuatan tandon air utama sendiri mendapat bantuan dari Dinas Pekerjaan umum untuk Tandon 5000 liter, dan pengerjaan pondasi dikerjakan okeh mahasiswa KKN bersama Masyarakat. Adapun pembuatan pondasi sendiri meliputi penggalian latar serta pondasi tandon.

Saat ini, Sistem Pengangkatan Air ini telah berhasil mengalirkan air bersih dari sumber air Kaligede ke tandon rata-rata 6000 liter/hari. Sementara itu, pada hari yang terik/cerah sistem dapat mengalirkan air mencapai 8000 liter/hr. Dengan dibangunnya sistem ini, kebutuhan air 52 kepala keluarga dapat dipenuhi. Sejauh ini, sistem dapat berjalan baik dan tepat guna sebagai sebuah sistem mandiri. Besar harapan KAMASE untuk dapat menjadikan Sistem Pengangkatan Air ini sebagai langkah awal KAMASE dalam memberikan sumbangsih di bidang energi terbarukan yang bermanfaat bagi masyarakat banyak untuk kehidupan Indonesia yang lebih baik.

5 Replies to “Sistem Pengangkatan Air Di Kecamatan Panggang Menggunakan Energi Matahari Sebagai Solusi Kehidupan Masyarakat Yang Lebih Baik”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.