Galeri Energi
Citra bumi pada malam hari ini diambil dari: Edwards, J.D., 2002, Twenty-first Century Energy: Transition from Fossil Fuels to Renewable, Nonpolluting Energy Sources, Proc. of the Arbor Day Farm Conf., Kansas. Daerah terang benerang terjadi di Amerika Serikat, sebagian Amerika Selatan, hampir seluruh Eropa, sebagian negara-negara pecahan Uni-Soviet, negara-negara di Timur Tengah, Jepang, Cina, dan untuk Indonesia (pulau Jawa paling terang dibandingkan dengan pulau-pulau lain). Dapat dikatakan daerah terang pada gambar tersebut hampir sebagian besar adalah negara-negara maju, untuk Indonesia (pulau Jawa lebih berkembang dibandingkan dengan pulau lain di nusantara). Dapat dilihat juga, negara-negara dunia ketiga lebih gelap atau bahkan tidak mendapat listrik sama sekali. Hal ini karena terjadi ketimpangan rasio elektrifikasi di dunia.
Sebuah ilustrasi yang menggambarkan keadaan manusia ketika ketersediaan energi fosil habis dan kita tidak mencari sumber energi terbarukan/alternatif yang lain. Dunia modern yang membutuhkan energi listrik diperoleh dengan mengkoordinir masyarakat modern yang suka berlari pagi untuk menjalankan generator listrik. Selain baik untuk kesehatan, kegiatan ini juga membantu pihak pembangkit listrik dalam menyediakan energi listrik untuk masyarakat.
.
.
Sebuah dunia menurut persepsi Amerika Serikat ini diambil dari: Altvater, E., The Rise and Fall of The Fossil Energy Regime, 2004, Paper in 2nd World Renewable Energy Forum. Hal ini karena, salah satu prioritas politik luar negeri AS adalah mengamankan pasok minyak ke negaranya. Penerapan kebijakan tersebut meliputi: kontrol strategis terhadap wilayah penghasil minyak, kontrol strategis terhadap jalur logistik (pipa, jalur tanker, kilang & penyimpanan), mempengaruhi pasok, mempengaruhi harga minyak dunia dengan pengendalian kebutuhan, campur tangan pada mata uang yg dijadikan referensi harga minyak. Banyak pangkalan militer AS yang dibangun dibeberapa negara, salah satunya ditujukan untuk mengamankan akses sumber energi terhadap negara penghasil minyak.
Dari berbagai penelitian yang ada, diperkirakan puncak produksi minyak dunia adalah antara 1997 – 2040. Setelah itu, produksi minyak dunia akan terus turun apabila tidak ditemukan sumber daya minyak baru atau penggunaan teknologi yang lebih canggih dalam eksplorasi minyak bumi. Dan akhirnya habis. Dari mana lagi kita akan memperoleh energi?
.
.
.
.
Pada gambar disamping, diperlihatkan 10 daerah kritis pasokan energi listrik di Indonesia pada akhir Maret 2005 (PLN, 2005). Untuk seluruh Jawa, Bali, NTT, NTB, sebagian Sulawesi tidak mengalami kekurangan pasokan daya listrik. Sedangkan Kalimantan mengalami defisit pasokan daya listrik sebesar 50 MW. Daerah yang lebih parah adalah sebagian besar Sumatera dan sebagian kecil Sulawesi, sebab terjadi defisit pasokan daya listrik mencapai lebih dari 50 MW.
.
.
Hasil pengamatan melelehnya Gletser Mer de Glace di Chamonix – Peg. Alpen, Perancis ini diambil dari: Kunz, M., et al., Wenn Zeus zornig wird, Focus, 34/2002. Pelelehan es tersebut merupakan bukti nyata dampak buruk Pemanasan Global. Prediksi yang lebih buruk adalah jika konsentrasi CO2 mencapai 560 ppm pada akhir abad 21, suhu di permukaan bumi diproyeksikan akan meningkat 1,4 – 5,8 derajat Celcius. Hal ini akan menimbulkan: kejadian iklim yg ekstrem (mis: gelombang panas, badai yang destruktif), mencairnya lapisan es bumi, & kenaikan permukaan air laut. (Sumber: Bacher, P., 2002, Meeting the energy challenges of the 21st century, Int. J. Energy Technology and Policy, Vol. 1, Nos. 1/2 dan Brown, L., 2001, Eco-Economy: Building Economy for the Earth, W. W. Norton & Co., New York).
Gambar disamping adalah potensi energi surya di dunia. Dapat dilihat pada daerah-daerah khatulistiwa (termasuk Indonesia) memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan dengan daerah-daerah sub-tropik/kutub. Dengan besarnya potensi ini (Indonesia rata-rata sekitar 4,8kWh/m2) maka pengembangan teknologi PV (Photovoltaic), SWH (Solar Water Heater), dan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) sangat menjanjikan.
.
.
.
Api dari biogas ini dihasilkan oleh bakteri metana dalam sebuah biodigester yang terkondisi secara anaerob. Dapat dilihat, pembakaran gas metana tidak menghasilkan asap, tidak seperti pada kompor konvensional atau tungku kayu bakar. Pembuatan biogas dapat dikatakan ramah lingkungan dan mengatasi permasalahan sampah organik dan kelangkaan minyak tanah dewasa ini.
.
.
.
Skenario menurut WEC/IIASA, IPCC, WBGU, G8 dan IEA. (diambil dari: Anonim, 2004, Conf. Issue Paper, Renewables, Intl. Conf. for Renewable Energies, Bonn). Produksi bahan bakar konvensional (minyak, gas alam, batu bara) terus menurun seiring dengan pertumbuhan ekonomi dunia. Hal ini akan membuka peluang dalam efisiensi energi dan penggunaan energi terbarukan di dunia.
.
.
.
Hasil penelitian yang dibukukan pada Insurance Institute for Highway Safety, Radovic. memperlihatkan konsumsi bahan bakar paling hemat adalah ketika mobil berjalan pada kecepatan sekitar 40 mph, sebab pada kecepatan ini efisiensi mobil berada pada nilai tertinggi. Maka apabila anda memiliki mobil, dapat menggunakan referensi ini untuk mengemudikan mobil anda supaya tetap irit bahan bakar.
.
.
.
Komentar
Komentar dari wisnu
Waktu 12 January 2010, 11:56
![]()
bisa ga energi panas matahari digunakan untuk fasilitas HVAC yang berfungsi untuk menurunkan kelembapan dalam udara
Komentar dari Pawda Tjoa
Waktu 22 February 2010, 20:50
Apakah sudah ada yang mengaplikasikan konsep teknologi tersebut di Tanah Air ataupun di negara-negara tetangga? Saya sedang research cara-cara aplikasi di Indonesia.
Komentar dari novyanto
Waktu 13 April 2010, 00:41
.. bagus .. aq jd pengen nyiptain energi baru,,ap la energi surya alam ..
Komentar dari vnesza
Waktu 23 July 2010, 21:29
keren aku suka ngara

Komentar dari grevy anggraeni
Waktu 11 October 2009, 16:01
bagus bgt niH…
q turut prihatin dgn keadaan bumi qta…global warning..