Oleh: Muhammad Ery Wijaya

Menerawang ke depan perkembangan penggunaan biofuel di dunia ini akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan ancaman pemanasan global yang sumber utamanya diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Selama 15 tahun terakhir pemanasan global telah meningkatkan suhu dan menyebabkan turunnya permukaan salju kutub utara dan es terapung di Laut Artik sehingga permukaan air laut mengalami kenaikan 14-20 cm selama satu abad terakhir.

Tren pengembangan biofuel ini telah terlihat di Amerika Serikat, negara konsumen utama BBM di dunia ini kini telah memulai meningkatkan produksi etanol dari 6.464,2 miliar liter pertahun menjadi 17.029,32 miliar liter pertahun. Perkembangan ini diikuti oleh beberapa negara maju di dunia baik dari belahan Eropa (Perancis, Poladia, Jerman, Itali, dan Spanyol) maupun Asia ( China).

Babak baru penggunaan biofuel di dunia terus melaju dengan pesat, entah berawal dari isu krisis minyak bumi seperti di Amerika maupun isu lingkungan seperti di masyarakat Uni Eropa yang sangat peka terhadap isu pemanasan global akibat emisi rumah kaca yang tinggi. Dalam hal pemanasan global, Indonesia telah meratifikasi United Nation Framework Convention on Climate Change melalui Undang Undang No. 6 Tahun 1994, tentang Pengesahan United Nation Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) sehingga kemudian berbagai kebijakan pemerintah saat ini sangat berpihak kepada pengembangan bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan.

Arah perkembangan selanjutnya adalah penambangan minyak akan dialihkan dan memulai dengan menambang minyak di ladang-ladang, pemanfaatan penggunaan minyak nabati mulai ditingkatkan, karena minyak nabati (biofuel) lebih ramah terhadap lingkungan. Ada beberapa tanaman yang dapat menghasilkan minyak-lemak, diantaranya ; Jarak pagar, kopi, padi, jagung, kelapa sawit, dan karet. Beragamnya jenis tanaman yang bisa menghasilkan minyak lemak semakin membuka peluang Indonesia untuk menjadi produsen biofuel terbesar di dunia, sebagaimana kita ketahui bahwa sebagai negara tropis hampir keseluruhan jenis tanaman penghasil minyak-lemak tersebut dapat tumbuh di tanah air. (untuk informasi jenis tanaman penghasil minyak : http://en.wikipedia.org/wiki/Biodiesel).

Namun diantara berbagai sumber biofuel itu juga merupakan sumber pangan baik untuk manusia maupun untuk ternak., kita ambil contoh kelapa sawit produksinya saat ini masih digunakan sebagai minyak goreng, sedangkan padi merupakan makanan pokok masyarakat kita, dan jagung masih merupakan sumber makan utama ternak. Sementara itu fokus kesiapan pemerintah saat ini dalam memanfaatkan biofuel adalah kelapa sawit untuk biodiesel, disamping jarak pagar (Jatropha curcas) dan tebu untuk bioetanol. Padahal semua tanaman tadi adalah sumber pangan, kecuali jarak pagar yang bukan merupakan sumber pangan (nonedible). Oleh karena itu diharapkan pemanfaatan sumber-sumber biofuel tidak mengganggu suplai pangan manusia maupun ternak.

Diversifikasi sumber biofuel layak mendapatkan posisi utama pada saat ini mengingat belum siapnya Indonesia memanfaatkan sumber biofuel dari bahan nonedible, sebagaimana kita ketahui hanya kelapa sawit dan tebu yang saat ini benar-benar siap untuk dimanfaatkan, sedangkan sumber yang lain masih dalam tahap perencanaan dan wacana, termasuk pula jarak pagar yang sampai saat ini masih dalam taraf pengembangan massal dan belum mencapai taraf produksi massal. Dalam Kebijakan Umum Bidang Energi (KUBE) disebutkan bahwa Diversifikasi energi diarahkan untuk penganekaragaman pemanfaatan energi, baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan, dalam rangka optimasi penyediaan energi nasional yang paling ekonomis dan untuk mengurangi laju pengurasan sumberdaya hidrokarbon untuk secara nasional mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya sehingga pembangunan berkelanjutan dapat terlaksana.

Sebagai skenario terbaik yang harus disusun saat ini adalah melakukan diversifikasi sumber biofuel yang berasal dari sumber non pangan mengingat bila menggunakan jarak pagar belum tersedianya produksi secara massal, agar rencana pengurangan BBM pada 2025 mencapai 20% dengan pemanfaatan biofuel lebih dari 5 % skala nasional dapat tercapai. Diversifikasi ini dapat berupa pencampuran (mixing) beberapa sumber biofuel dari tanaman non pangan seperti biji karet, jarak pagar, kapok/randu, malapari, dan nimba.

Referensi :

  1. Djajadiningrat, Surna. 2006. KEBIJAKSANAAN UMUM BIDANG ENERGI (KUBE). Jakarta.
  2. Koneba. Pentingnya Perkembangan Konservasi Energi Di Indonesia. Makalah Indonesia Infrastructure 2006 Menuju Pemanfaatan Energi yang Berkelanjutan. Jakarta 1-3 November 2006.
  3. Majalah Trubus. 2007. Minyak Nabati Penyelamat Jagad. Jakarta : edisi Maret 2006.
  4. Soerawidjaja, Tatang. 2005. MEMBANGUN INDUSTRI BIODIESEL DI INDONESIA. Makalah, Bandung 16 Desember 2005.
  5. Wijaya, E. 2006. Biodiesel di Indonesia, Sejarah, dan Potensi Masa Depan. Jogjakarta.: Buletin Kabare Kamase, edisi Oktober 2006.
  6. http://en.wikipedia.org/wiki/Biodiesel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.