Pemerintah akan menjadikan Dumai sebagai pusat pengembangan biofuel. Tahun 2007 kapasitas pabrik biodiesel di daerah itu ditargetkan mencapai 1 juta ton.

Demikian disampaikan Ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Alhilal Hamdi, Rabu (6/12). Menurut Alhilal, Dumai memiliki kelebihan, yaitu dukungan kebun kelapa sawit yang luas di Riau, posisi Dumai yang dekat dengan pelabuhan, dan akan ada pabrik biodiesel yang dibangun swasta dengan kapasitas pabrik 350.000 ton per tahun yang beroperasi pada awal Januari 2007.

“Dengan dukungan produksi CPO, Dumai akan diarahkan menjadi pusat industri biodiesel, posisinya yang dekat dengan Malaysia dan Singapura juga strategis. Jangan sampai kita kalah dari Singapura yang juga berkeinginan menjadi pusat pengembangan biodiesel,” kata Alhilal.

Pemerintah menargetkan produksi biofuel 12 juta per tahun pada 2010, sebagian besar akan dihasilkan oleh industri yang ada di Dumai. Diakui Alhilal, peraturan pemerintah terkait pengembangan bahan bakar nabati masih belum sempurna.

Ia mencontohkan, pengusaha yang ingin mengekspor biodiesel harus mendapat rekomendasi dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. “Perpanjangan jalur birokrasi semacam itu justru akan mendorong pengusaha untuk mengekspor bahan mentah biofuel. Kita bisa kalah lagi dengan Singapura,” kata Alhilal.

Pemerintah sudah menyiapkan insentif fiskal bagi perusahaan yang mengembangkan bioenergi. “Selain itu, sedang disusun juga acuan biofuel sebagai bahan bakar minyak bersubsidi,” kata Alhilal.

Pemerintah melalui departemen teknis masing-masing mulai tahun 2007 mengalokasikan dana untuk komoditas jarak pagar dan dana untuk mesin-mesin pengolah jarak pagar. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur pengembangan bahan bakar nabati dan subsidi bunga bagi petani yang mengembangkan bahan bakar nabati.

Biopertamax

Secara terpisah, Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal mengatakan, pengembangan bisnis biodiesel dan biopremium Pertamina masih menunggu kepastian subsidi. “Harga bahan baku biofuel itu lebih mahal sekitar Rp 300 per liter, sementara kalau mau bersaing dengan BBM, harus dipasarkan dengan harga subsidi,” kata Faisal.

Pertamina sudah siap menandatangani kerja sama dengan produsen bahan baku biodiesel. Ada tiga investor yang siap memasok 2,5 juta ton biofuel, yang memiliki pabrik di Dumai dan Medan. Di Jakarta, Pertamina sudah memasok biosolar di 180 stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU). Adapun di Malang, Pertamina sudah memasarkan biopremium. Pertengahan Desember 2006 Pertamina juga segera meluncurkan biopertamax.

Diambil dari : Kompas, Jakarta, 7 Desember 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.