Bahan Bakar Nabati: What, and Whose, Costs?

Oleh: R.Wisnu Ali Martono (Divisi Riset, Masyarakat Akuntansi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Indonesia – MASLI)

Abstrak:

Guna mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran, serta untuk mengurangi tekanan permintaan bahan bakar minyak, pemerintah mengeluarkan Keppres no 10 tahun 2006. Keppres ini menetapkan pembentukan Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran (kemudian dikenal sebagai Timnas BBN). Dengan argumentasinya, Timnas BBN menetapkan tanaman jarakpagar (Jatropha Curcass L) sebagai wahana paling tepat untuk mencapai tujuan Keppres no 10/2006, yaitu mengentaskan kemiskinan. Makalah ini mengupas masalah yang akan dihadapi Keppres no 10/2006 dalam mencapai tujuannya, terutama dari sisi keekonomian. Makalah menemukan bahwa Keppres mempunyai tujuan yang saling bertentangan, yaitu pengentasan kemiskinan dan produksi BBN (terjangkau), yang seyogyanya dipisahkan.

Katakunci: Keppres no 10/2006, jatropha curcass L, Keekonomian

PENDAHULUAN

Menurut laporan Departemen Energi AS (DOE) [1] yang diterbitkan Oktober 2005, sejak tahun 2004 Indonesia sebenarnya sudah menjadi net-importer minyak bumi. Grafik 1.1. berikut menggambarkan keadaan ini. Ada dua sisi penting yang menyebabkan terjadinya situasi net-importer ini, yaitu sisi demand dan supply.

Grafik 1.1. Produksi dan Konsumsi Minyak Indonesia

Dari sisi demand, salah satu penyebabnya adalah terlalu besarnya ketergantungan penyediaan energi Indonesia pada bahan bakar minyak. Selain itu, besarnya elastisitas energi (terhadap pembentukan GDP) ikut mempercepat peningkatan konsumsi energi Indonesia.

Dari sisi supply banyaknya sumur-sumur minyak tua dan semakin kurangnya kegiatan eksplorasi menyebabkan semakin berkurangnya produksi minyak Indonesia. Penurunan kapasitas produksi ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1995, dengan penurunan tercepat terjadi sekitar tahun 2002.

Ada upaya-upaya pemerintah untuk mengangkat kembali tingkat produksi minyak bumi yang semakin menurun ini, dengan berbagai kebijakan. Salah satunya adalah dengan mengupayakan kenaikan produksi [2] dengan beroperasinya 10 lapangan minyak pada tahun 2008. Ke 10 lapangan itu adalah North Duri, Kotabatak, Bekapai, Handil, Tunu 11A, Pulau Gading dan Sungai Kenawang, Fariz, Kuat, Singa, dan Tangguh.

Selain itu, upaya juga dilakukan di 12 lapangan lainnya sudah mulai produksi awal 2007, agar produksi tahun depan dapat ditingkatkan. Ke-12 lapangan itu adalah SW Betara, Tunu 12, TSB, Ujung Pangkah, Soka, Fariz, NE Aja, Balam South, KE-32, KE-38, KE-39, dan KE-54.

Selain mengupayakan peningkatan produksi minyak, pemerintah juga mengupayakan diversifikasi ke sumber energi fosil lain (batubara untuk kelistrikan, gas untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga). Langkah ini diharapkan akan memperkecil gap supply-demand bahan bakar minyak, sehingga memperkecil angka net-import minyak.

Usaha lain dalam rangka semakin memperkecil net-import gap ini adalah dengan dikeluarkannya Keppres no 10 Tahun 2006 [3]. Pada intinya, Keppres ini dimaksudkan untuk mengentaskan kemiskinan, sekaligus memperlonggar gap supply-demand bahan bakar minyak. Selain dua tujuan tersebut, diharapkan juga penerapan Keppres ini akan mengurangi subsidi bahan bakar minyak yang harus dikeluarkan pemerintah, bahkan mendatangkan devisi yang cukup besar dengan adanya ekspor bahan bakar nabati yang dapat dilakukan.

OPERASIONALISASI KEPPRES NO 10 TAHUN 2006

Sesuai dengan tugas yang dibebankan kepadanya, tim yang terbentuk oleh Keppres ini, kemudian dikenal sebagai Tim Nasional Bahan Bakar Nabati (atau Timnas BBN) membuat Blueprint kebijakan untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah.

Boleh dikata, Timnas BBN dipimpin oleh mereka yang sejak awal berpendapat bahwa tanaman jarak pagar (jatropha curcass L) adalah satu-satunya wahana yang paling tepat untuk mencapai tujuan yang terkandung dalam Keppres 10 tahun 2006 [4]. Tidak mengherankan jika kebijakan yang kemudian diajukan oleh Timnas BBN boleh dikata sangat jatropha-sentris [5]. Tabel 2.1. berikut adalah salah satu hitungan dalam situs www.jarakpagar.com yang kemudian sering dipergunakan untuk menunjukkan kelebihan jarakpagar dalam kaitan dengan Keppres no 10/2006.

Dari Tabel 2.1. di atas jelas dipersepsikan bahwa jarakpagar memang tanaman yang paling tepat untuk mencapai tujuan seperti yang dikandung dalam Keppres no 10 tahun 2006, yaitu mengentaskan kemiskinan. Perhitungan yang kemudian digunakan oleh Timnas BBN dalam sosialiasinya bahkan lebih menonjolkan lagi kelebihan jarakpagar untuk mengentaskan kemiskinan dengan mengasumsikan bahwa tiap petani dapat menanam sawit (2 ha/orang), singkong (2 ha/orang), tebu (0,5 ha/orang) dan jarak pagar (3 ha/orang). Dengan asumsi luasan seperti ini jelas (meskipun tidak membandingkan secara apple to apple) menanam jarakpagar paling menguntungkan dibanding tanaman sumber BBN lain. [6]

Dengan pola pemikiran seperti itu tidak mengherankan jika kebijakan yang disarankan kemudian juga jatropha-sentris. Selain alasan di atas, tanaman selain jarakpagar dianggap tidak cocok untuk digunakan sebagai wahana mempercepat pengurangan kemiskinan dengan alasan memerlukan modal yang lebih tinggi, atau tidak dapat dilakukan pemrosesan pada tingkat petani. Dengan kata lain, kesuksesan pelaksanaan Keppres no 10 tahun 2006 ada pada tanaman jarakpagar.

MITOS DAN FAKTA JATROPHA

3.1. Mitos Jatropha

Di Indonesia, jarakpagar bukanlah tanaman baru, meski berdasar penelitian mereka bukan tanaman asli Indonesia. Walaupun bukan tanaman baru, boleh dikata tanaman ini tidak banyak diketahui secara ilmiah. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya manfaat tanaman ini dalam kehidupan sehari-hari, sebelum diketahui dapat digunakan sebagai bahan baku BBN.

Ketidaktahuan tentang tanaman ini sebenarnya juga terjadi di negara lain. Penyebabnya hampir sama, rendahnya manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari jatropha [7] menyebabkan tidak adanya minat untuk meneliti secara ilmiah. Rendahnya pengetahuan ilmiah tentang jarakpagar, ditambah dengan informasi yang tidak tepat, menyebabkan terjadinya banyak kekeliruan dalam sosialisasi tentang jarakpagar.

Pada awal sosialisasi jarakpagar, seringkali disebutkan bahwa tanaman ini mempunyai banyak sekali atribut positif, antara lain:

  • Dapat ditanam di segala lahan, yang tidak dapat ditumbuhi tanaman lain
  • Tidak memerlukan perawatan khusus
  • Tidak memiliki hama
  • Mulai berproduksi pada bulan ke 6
  • Produksinya diatas 10 ton/ha/tahun
  • Rendemen minyak sampai 40%
  • Lebih menguntungkan untuk dibudidayakan dibanding dengan sawit atau tebu
  • Bila diproses menjadi biodiesel, harganya sangat murah
  • Selain dimanfaatkan minyaknya, juga dapat dipakai sebagai obat

Apabila kesemua atribut di atas benar, adalah tidak salah menjadikan jarakpagar sebagai sarana untuk mengentaskan kemiskinan, menambah kesempatan kerja di pedesaan, mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi, sekaligus mengembalikan lahan terlantar atau lahan kritis menjadi lahan produktif. Tidak salah jika presiden menyebut Keppres no 10 tahun 2006 (notabene program jarakpagar) sebagai program yang bersifat pro-job, pro-poor, pro-growth dan pro-planet.

3.2. Fakta Jatropha

3.2.1. Yield

Yield, atau produktivitas per hektar, adalah satu faktor yang sangat menentukan terhadap keberhasilan pencapaian tujuan mulia dalam Keppres no 10 tahun 2006. Kekeliruan dalam mengasumsikan besarnya angka ini akan merusak seluruh program turunan yang dibuat berdasarkan amanat Keppres ini. Alih-alih mencapai tujuan sebagai pro-job, pro-poor dan pro-growth, rakyat miskin justru berpotensi menjadi kelompok lebih miskin apabila diikutkan dalam program penanaman jarakpagar.

Seperti diketahui, Timnas BBN (maupun cikal bakal Timnas) telah menjanjikan bahwa harga BBN (dalam hal ini biodiesel jarakpagar) akan jauh lebih murah dari bahan bakar solar bersubsidi. Pada awal tahun 2006 sering disebut angka Rp2500 hingga Rp3000/liter. Perhitungan harga ini didasarkan pada harga bahan baku biji jarakpagar sebesar Rp500/kg. Apabila tiap liter biodiesel jarak diperkirakan memerlukan 3 kg biji jarak, ditambah biaya proses dan sebagainya maksimal Rp 1000-1500/liter, angka perkiraan di atas memang nampak masuk akal bagi produsen biodiesel, maupun bagi konsumen (dalam hal ini Pertamina sebagai standby buyer).

Di sisi petani, dengan yield (paling tidak) 5 ton/hektar/tahun pada awal-awal penanaman dan kepemilikan lahan 3 hektar, diperkirakan mereka sudah dapat menikmati hasil paling tidak Rp7,5 juta/tahun. Jika dibandingkan dengan pendapatan garis kemiskinan tahun 2006 (Maret) sebesar Rp 152.000/kapita, penghasilan dari menanam jarak pagar ini memang sudah bagus.

Permasalahan baru timbul, ketika diketahui bahwa yield tanaman jatropha di lahan kritis atau lahan yang tidak produktif (seperti sasaran yang hendak dicapai) tidak sebesar itu. Data yield jarakpagar yang ada di dunia memang simpangsiur, seperti Tabel 2.2. berikut (Joachim Heller, 1996) [8].

Selain tidak menyebutkan umur, data di atas juga tidak menyebutkan jenis tanah dan perlakuan apa yang dilakukan terhadap tanaman. Di lain pihak, banyak juga pihak yang menyebutkan yield sampai belasan ton. Pada umumnya, mereka adalah pihak yang menawarkan bibit jarak.

Di Indonesia sendiri, pihak Puslitbang Departemen Pertanian sedang melakukan penelitian untuk menemukan varian yang dapat menghasilkan yield 5 ton/ha/tahun pada berbagai kondisi [9]. Dengan kata lain, informasi bahwa yield jarakpagar adalah belasan ton/ha/tahun, apalagi cukup ditanam di sembarang lahan tanpa perlakukan khusus adalah sebuah MITOS.

Pada bulan Maret 2007 dilakukan seminar oleh FACT (Fuels from Agriculture in Communal Technology) di Universitas Wageningen (Belanda). FACT kemudian mengeluarkan Position Paper on Jatropha Curcas: State of the Art, Small and Large Scale Project Development, dimana disebutkan bahwa belum ada data tentang yield jarakpagar yang terdokumentasi dengan jelas. Data dari Nikaragua, pada lahan yang bagus, dihasilkan 4,5ton pada tahun ke 4. Sementara, dari Indonesia (menurut Robert Manurung) dapat dihasilkan hingga 5 ton/ha/th setelah tahun pertama penanaman. Diingatkan oleh position paper FACT bahwa yield hingga saat ini belum dapat diprediksi dengan akurasi yang tinggi. Biji jarakpagar yang berproduksi dengan baik di satu wilayah, belum tentu tumbuh dengan baik pula di tempat lain.

3.2.2. Harga Biji

Dengan angka yield belasan ton/ha/tahun pun, dengan harga beli biji jarak seperti disarankan oleh Timnas BBN pada awalnya [10], sebenarnya budidaya jarakpagar tidak mendatangkan keuntungan apapun bagi petani. Perhitungan oleh Wisnu Martono (2007) [11] memperkirakan biaya produksi biji jarak sebesar Rp1.220/kg, dengan asumsi yield 5 ton/ha/thn dan dijual dalam keadaan curah di lapangan [12]. Perhitungan Timnas BBN yang menyebutkan dengan asumsi harga jual biji jarak sebesar Rp500/kg petani sudah mendapat keuntungan agaknya diperoleh dengan mengasumsikan bahwa penanaman jarakpagar tidak terlalu rumit, dan oleh karenanya tidak memerlukan banyak biaya tambahan, dengan tingkat hasil yang tinggi pula.

3.2.3. Pengurangan Subsidi BBM

Jika dapat diperoleh yield tinggi dan petani sudah diuntungkan dengan harga patokan biji jarak yang disarankan Timnas BBN, maka akan dapat diproduksi BBN dengan harga lebih murah dari BBM bersudsidi. Dengan demikian, subsidi yang harus dibayar negara akan sangat jauh berkurang.

Masalahnya, asumsi yield maupun kegiatan yang harus dilakukan dalam budidaya jarak ternyata tidak tepat. Pilihan yang dihadapi adalah: terus memproduksi BBN dengan biaya produksi seperti yang dijanjikan menjelang dikeluarkannya Keppres no 10/2006 (sekitar Rp2500-3500/liter), atau dengan harga sewajarnya (jauh lebih mahal dari harga solar tanpa subsidi). Keduanya akan menghasilkan pengurangan subsidi [13].

Pilihan pertama, dengan basis hitungan Wisnu Martono (2007) petani harus menanggung kerugian Rp700 untuk setiap kg biji jarak yang mereka hasilkan. Jika pilihan ini yang ditempuh, Keppres no 10/2006 dapat dikata telah gagal mencapai tujuannya. Petani dan masyarakat miskin justru semakin dirugikan. Perhitungan yang dilakukan oleh Erina Mursanti (2007) [14] memperkirakan pada tahun 2009 petani peserta program penanaman jarakpagar akan dirugikan Rp 25 trilyun setahunnya, apabila harga jual biji jarak mengikuti saran Timnas BBN. Bisa saja, agar petani tidak dirugikan, keseluruhan kerugian itu ditutup oleh negara.

Pilihan kedua, agar petani tidak dirugikan, biji jarak dibeli dengan harga di atas Rp1.220/kg. Sebab, pada harga biji jarak sebesar ini, petani belum mendapatkan marjin keuntungan. Mereka hanya memperoleh hasil sebagai imbalan tenaga yang dikeluarkan. Sisanya digunakan untuk membayar faktor produksi lain, ditambah biaya pengepakan dan pengangkutan ke lokasi pembeli. Apabila diasumsikan petani juga memperoleh marjin keuntungan (agar tujuan mengentaskan mereka dari kemiskinan dapat tercapai), kemungkinan besar janji Timnas BBN bahwa harga biodiesel jarakpagar akan murah, jelas tidak tercapai.

Jadi, harus dipikirkan kembali, berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk meneruskan program BBN ini, dan siapa yang harus menanggung? Memaksa petani dan penganggur untuk membayar biaya produksi BBN (dengan menghargai biji jarak lebih murah dari biaya produksinya) jelas bukan maksud yang terkandung dalam Keppres no 10/2006. Kalaupun bukan petani, siapa? Negara lagikah?

3.2.4. Karsinogenitas Ester Forbol

Pada awalnya, petani hanya diharapkan untuk menanam jarakpagar untuk kemudian menjual bijinya kepada pemroses selanjutnya, untuk diproses menjadi biodiesel. Kemudian muncul ide untuk menggantikan minyaktanah dengan minyak jarak (biokerosin). Dalam hal ini muncul ide agar para petani dapat memproses sendiri biji jarak, di antaranya, untuk menjadi minyak pengganti minyak tanah [15].

Pemrosesan sendiri minyakjarak oleh petani berarti menyebabkan kemungkinan terjadinya kontak langsung petani dengan minyak jarak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mitsuru Hiruta et al [16], diketemukan bahwa ester Forbol yang terkandung dalam biji jarak pagar menyebabkan terjadinya kanker kulit pada tikus percobaan [17].

BAHAN BAKAR NABATI ATAU TIDAK?

Pada awalnya, dengan keterbatasan pengetahuan tentang berbagai tanaman yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan baku biofuel, terdapat harapan yang besar untuk menghasilkan bahan bakar yang ramah lingkungan dan terjangkau harganya.

Akan tetapi, kini terlihat bahwa banyak target yang tidak bisa terpenuhi. Salah satunya adalah target penanaman jarak pagar tahun 2007 yang hanya tercapai kurang dari 5% (dari 600.000 hektar target, hanya tercapai 25.000 hektar) [18]. Dari luasan tersebut, propinsi Lampung menduduki posisi tertinggi dengan jumlah tanaman mencapai 13.700 ha. Rendahnya capaian target ini, salah satunya, dikarenakan belum adanya kejelasan harga beli biji jarak. Kalaupun ada, dinilai cukup rendah (Rp 800/kg) [19] sehingga tidak mendorong petani untuk menanamnya. Banyak petani yang kemudian patah arang menanam jarakpagar karena janji pembelian dan jaminan harga yang semula dijanjikan tidak ditepati. [20] Kesemuanya itu berasal dari kesalahan memahami masalah budidaya jarakpagar.

Akan tetapi, saat ini mulai muncul keprihatinan bahwa sebenarnya secara keseluruhan proses produksi biofuel [21] tidak selalu ramah lingkungan [22] . Saat ini, paling tidak di negara Belanda, mulai muncul keinginan untuk menuntut sertifikasi atas impor biodiesel dari luar. Bahkan, PBB telah meminta agar dilakukan moratorium selama 5 tahun untuk program biodiesel, untuk memantau dampak buruk produksi bahan bakar nabati ini [23].

Di Indonesia sendiri, dengan berbagai permasalahan seperti disebutkan makalah ini, agaknya mulai perlu dilihat kembali apakah program BBN, terutama yang terkait dengan rencana pengentasan kemiskinan, perlu diteruskan atau direvisi. Kedua hal ini saling bertentangan sehingga saling mengganggu pencapaiannya.

1] Dalam www.eia.doe.gov, Country Analisys Brief: Indonesia

[2] Antara: Indonesia Andalkan Peningkatan Produksi Minyak dari 22 Lapangan, diakses 1 November 2007

[3] Pembentukan Timnas BBN Untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Percepatan Pengurangan Pengangguran

[4] Lihat www.jarakpagar.com, sebuah situs yang gencar mendukung pemakaian jarakpagar sebagai bahan bakar alternatif, didirikan menjelang akhir tahun 2005. Situs ini banyak memuat tulisan oleh dan tentang orang-orang yang kemudian menjadi cikal bakal Timnas BBN.

[5] Walaupun situs www.jarakpagar.com secara formal tidak terkait dengan Timnas BBN, akan tetapi banyak tulisan di situs ini yang kemudian disebarkan oleh Timnas. Salah satunya adalah hitungan keekonomian yang menunjukkan keunggulan jarak pagar dibandingkan dengan sawit, tebu dan singkong, dalam rangka memproduksi BBN dan mengentaskan kemiskinan.

[6] Lihat, misalnya, dalam http://www.indobiofuel.com.

[7] Bahwa Jepang dalam Perang Dunia II pernah memaksa rakyat Indonesia untuk membudidayakan jarakpagar tidak dapat dianggap sebagai bukti manfaat ekonomi tanaman ini, mengingat Jepang melakukannya dalam keadaan terpaksa dan sama sekali tidak memperhitungkan imbalan bagi petani yang menanamnya

[8] Joachim Heller, Physics Nut (Jatropha Curcas), The International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI),1996.

[9] Balitbang Pertanian – Departemen Pertanian, Infotek Jarak Pagar Vol 1 No.5, Mei 2006

[10] Rp500/kg, agar harga jual produk biodieselnya lebih murah dari solar fossil bersubsidi.

[11] Wisnu Ali Martono, Tinjauan Keekonomian dan Non-edibility Jarak Pagar, makalah dalam Jurnal Ekonomi Lingkungan, 2007.

[12] Perhitungan akan menjadi lain lagi kalau asumsinya dijual dalam karung dan dibawa ke lokasi pembeli. Jelas akan menjadi semakin mahal, dan semakin besar lagi kerugiannya.

[13] Besarnya pengurangan subsidi ini akan bergantung pada ada tidaknya subsidi lain yang diberikan pemerintah dalam rangka penanaman jarakpagar, atau proses produksi selanjutnya, dalam rangka menghasilkan minyak jarak.

[14] Erina Mursanti, Perhitungan Keekonomian Program Jarak Pagar, Skripsi FE-UI, 2007

[15] Misalnya dalam program Desa Mandiri Energi, di mana disarankan minyak jarak yang dihasilkan disarankan untuk dipakai sendiri.

[16] Mitsuru Hirota, A New Tumor Promoter from the Seed Oil of Jatropha curcas L., an Intramolecular Diester of 12-Deoxy-l 6-hydroxyphorbol1, (CANCER RESEARCH 48. 5800-5804. October 15. 1988].

[17] Di lain pihak, ada penelitian yang menyebutkan bahwa kandungan curcin dalam biji jarakpagar juga berpotensi untuk digunakan sebagai penangkal kanker.

[18] Antara: Sulit Capai Target Biofuel jadi Pengganti BBM, diakses 10 Oktober 2007

[19] Kompas, OKU Timur Siap Menjadi Produsen Biodiesel, 21 September 2007

[20] Kompas, Jangan Jadi Program Mandul, 16 Juni 2007.

[21] Untuk sementara, perdebatan apakah biofuel secara lingkungan lebih baik daripada minyak bumi masih terbatas pada bioethanol berbahanbaku jagung. Akan tetapi, keprihatinan ini juga mulai muncul terhadap biofuel lain (biodiesel).

[22] Kruger Times, Biofuels: Friend or Foe?.

[23] The Hindu, UN Experts Seeks 5 yrs Moratorium on Bio-fuels,

Tags: ,

No comments yet.

Leave a Reply