Oleh : Andhy Muhammad Fathoni

Polemik yang mendera bangsa Indonesia di bidang energi terasa semakin pelik. Berbagai kebijakan energi yang diterapkan pemerintah tidak mampu meyakinkan rakyat. Sementara itu, tuntutan pemenuhan kebutuhan energi semakin mendesak. Setelah melalui berbagai kajian mendalam, pemerintah memutuskan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pembangkit ini direncanakan akan dibangun di daerah pegunungan Muria. Sebuah daerah berbukit di sebelah utara kota Jepara. Pegunungan Muria dianggap paling memenuhi syarat sebagai tempat berdiri dan beroperasinya PLTN. Selain karena aman dari gempa, daerah Muria juga sangat dekat dengan sumber air (Laut Jawa) yang dibutuhkan untuk mendinginkan reaktor nuklir setelah “lelah” bekerja. Dengan dibangunnya PLTN, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil yang selama ini diandalkan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita mampu membangun PLTN dan menanggung segala resiko yang mungkin terjadi?? Sudah bukan rahasia umum jika PLTN sampai saat ini masih dipertanyakan sistem keamanannya. Tragedi Chernobyl, dan Three Mile Island di Amerika Serikat cukup dijadikan bukti bagi masyarakat untuk menolak PLTN. Bahkan, bom atom yang meluluhlantakkan kekuatan Jepang di Perang Dunia kedua pun belum lekang dari memori. Tak ayal, penolakanpun terjadi dimana-mana. Terlebih lagi bagi warga Kudus dan Jepara yang merasa telah dijadikan “kelinci percobaan” bagi proyek pemerintah ini. Mereka dengan lantang menyuarakan suara hati melalui demo yang digelar di berbagai tempat dan (entah mengapa) mengatasnamakan diri pembela lingkungan.

Sumber energi alternatif

Beberapa ahli mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya masih memiliki alasan untuk tidak terburu-buru dalam membangun PLTN. Salah satunya adalah dengan mengupayakan pengembangan teknologi energi terbarukan. Apalagi, Indonesia memiliki sumber daya terbarukan yang lebih dari cukup untuk dikembangkan. Fakta di lapanganpun menegaskan demikian. Garis pantai terpanjang kedua di dunia memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki potensi di bidang energi angin. Kenyataan bahwa negara kita dilalui garis katulistiwa membuat prospek energi matahari sangat cerah untuk dikembangkan. Belum lagi sumber daya bahari disertai sumber air mengalir yang melimpah memperlihatkan bahwa energi biodiesel dan mikrohidro bukanlah sebuah mimpi. Jika masih kurang, deretan gunung api mengindikasikan Indonesia memiliki sumber panas bumi yang besar bahkan merupakan yang terbesar di dunia. Hanya saja, bukan perkara mudah mengubah sumber daya sebesar itu menjadi energi yang bisa dimanfaatkan. Panas Bumi misalnya. Regulasi dan nilai investasi yang terlalu tinggi membuat investor tak tertarik untuk bermain lebih jauh di bidang ini. Bahkan untuk pengembangan solar cell atau energi mataahari, kita harus siap-siap untuk tak pernah mendapatkan modal kita kembali. Untuk membangun suatu windfarm (ladang kincir angin), ternyata bukan hanya dibutuhkan kecepatan angin yang memadai. Ketersediaan bahan baku dan kelengkapan infrastruktur juga diperlukan. Sampai saat ini, baru Mikrohidro dan Panas Bumi yang secara nyata dikembangkan bukan sekedar bentuk penelitian. Perusahaan energi Chevron dan PT Geodipa Energi mengambil langkah berani dengan terjun pada penambangan panas bumi. Sementara itu, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sudah dikembangkan di beberapa daerah. Salah satunya adalah di Papua Barat dimana PLTMH dijadikan andalan dalam memasok listrik.

Kembali ke PLTN

Sulitnya mengembangkan energi terbarukan masih ditambah dengan sulitnya energi terbarukan memenuhi kebutuhan listrik dalam jumlah langsung secara instan. Hal ini memaksa kita kembali berpaling pada PLTN. Berbeda dengan sumber energi lain, dengan sedikit bahan bakar, energi yang dihasilkan PLTN sangat besar. 1 kg bahan bakar nuklir dapat menghasilkan energi yang setara dengan 12.000 barel minyak bumi (BATAN, 2006). Selain itu, harga bahan bakar nuklir (uranium dan plutonium) juga sangat murah. Dari segi tenaga ahli, pendirian program studi Teknik Nuklir di Fakultas Teknik Unversitas Gadjah Mada pada tahun 1978 menjadi sebuah jaminan. Hanya saja, banyak masyarakat bertanya, bisakah semua itu menjadi garansi keamanan PLTN?? Pengalaman kita sampai saat ini baru sebatas riset. Apakah dengan berbekal pengalaman itu cukup untuk menghandle sebuah PLTN yang menyimpan bahaya begitu besar?? Terjadinya kebocoran radioaktif pada instalasiPLTN di Kashiwazaki di Jepang setelah terkena gempa semakin menambah kekhawatiran masyarakat. Lantas bagaimanakah pemerintah mencoba meyakinkan masyarakat bahwa Muria aman dari gempa sementara ingatan kita masih segar dengan gempa Jogja?? PLTN memang bisa memberi kita keuntungan besar. Namun dibalik semua itu kemampuan kita meminimalkan bahaya yang munkin terjadi masih banyak diragukan. Lalu, sudahkah kita mampu??

Sumber :

  • Radiasi di sekitar kita, anonim, 2004
  • mengenal PLTN, BATAN, 2006

6 Replies to “PLTN : Sudahkah Kita Mampu ??”

  1. πŸ˜‰ Saya mendukung penuh πŸ‘Ώ rencana Pemerintah untuk segera membangun PLTN karena melihat beberapa aspek:
    1. energi yg praktis dan ekonomis (subsidi listrik bisa digunakan untuk kepentingan umum)
    2. tersedinya energi yg cukup (listrik gak Byar pet dan tagihan tidak mahal)
    3. Jamannya nuklir ( gengsi dong dah setengah abad lebih merdeka masih gak punya tenaga nuklir, kapan majunya indonesia kalau masyarakat masih kolot,lihat tuh Iran jangankan nulir, pipa saluran minyak aja bisa dibangun untuk disalurkan ke eropa!!!!berapa jauhnya yah????itung sendiri di peta )
    4. menyerap tenaga kerja
    5. mengaplikasikan ilmu para ilmuwan nuklir indonesia (jangan riset aja habisin APBN pa lagi lulusan nya mau kemana kerjanya yg tiap tahun tambah sarjana nuklir baru?????).

    KENDALA KEAMANAN? jawabnya adalah………
    1. Tanya sama bang amrik masalah safety handling(baik SDM Limbah & Resiko)
    2. Indonesia banyak pulau kosong yang jauh dari penduduk
    Kesimpulan :
    Jadi sepertinya masalah nuklir jadi traoma padahal belum ada, ilmu jg pemberian tuhan, contoh dulu jamanya Tabib sekarang dokter, dulu pedati sekarang jet, dulu lampu obor sekarang listiiiik πŸ˜€ πŸ˜€ dulu kesaktian sekarang nuklir doooong , semua itu ilmu kan? ya semoga ilmu nuklir bisa bermanfaat
    kini tinggal manusianya mau kolot trs apa kreatif demi membangun bangsa yang mampu dlm segala hal πŸ™‚ gitu kok repot …..

  2. :mrgreen:
    :mrgreen:
    :mrgreen:

    Mnurut sya kapan lagi Indonesia berkembang klo di hantui ketakutan yg berlebih..??
    lebih baik jika kita berani mengeluarkan biaya untuk experiment yg nantinya akan memberi keunungan bagi negara kita??
    Tp di lihat dari segi biaya untuk experiment kyknya sulit,karena melihat perkembangan negara kita mengeluarkan biaya besar unuk sebuah masa deapan yg baru sangatlah Suliy(seret)..
    moga2 kawan2 mahasiswa dapat berfikir lebih luas dalam menyikapi perkembang negara kita…!!
    Apakah betah disebu negara berkembang melulu????

  3. Memang sudah saatnya bagi Indonesia untuk keluar dari kusutnya krisis energi yang terjadi. Jangan ragu lagi menggunakan PLTN, safety n security-nya sangat luarbiasa.

  4. tapi kita juga kudu berpikir…apakah bangsa ini sudah cukup matang di ukur dari semua sisi untuk pengelolaannya..lihat dmpak nya kedepan..jangan kita terburu2 membandingkan dngan negara yang sudah maju dari segala siisi sperti amerika,prancis dan japan……lebih baik kita mengembangkan energi terbarukan yang memang lebih mahal dari segi investasi tapi lebih baik dari segi lingkungan dan cukup memnjanjikan untuk energi masa depan

  5. saya sangat setuju dengan pembangunan PLTN . sebuah cita cita besar bagi saya, bisa ikut mengembangkan PLTN di Indonesia haha :mrgreen:

    tentang , keselamatan kerja , saya juga setuju dengan cara kita belajar dari USA , ataupun Rusia atau negara lain yang sudah kebih maju dan berpengalaman .

    kita ini negara berkembang ! tenaga ahli nukir sudah ada . lahan pulau kosong sudah ada . nuklir lebih murah daripada batu bara (batu bara kita bisa beli , ya nuklir jelas kita bisa beli hahaha πŸ˜€ )
    finally , tinggal bagaimana menyatukan apa yang kita punya dan apa yang akan kita pelajari dari negara negara maju seperti USA , Rusia dll .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.