Oleh: Muhammad Ery Wijaya

Renewable Energy Asia 2008 (REA 2008) merupakan sebuah ajang konferensi dan pameran teknologi energi terbarukan tingkat Asia, baru saja dilaksanakan di Bangkok, Thailand pada 4-7 Juni 2008 lalu dengan menghadirkan sejumlah pakar bidang energy terbarukan dari berbagai negara, dengan mengangkat tema “New Developments in Renewable Energy: Technology, Markets and Policies in Southeast Asia“. REA 2008 menarik perhatian peserta yang datang dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang profesi untuk ikut serta dalam ajang tersebut.

Pada REA 2008 ini kebetulan saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi delegasi dari The Joint Graduate School of Energy and Environment (JGSEE), tempat saya menempuh studi master saat ini. Acara dimulai dengan pembukaan oleh Menteri Energy Thailand Letnan Jenderal Poonpirom Liptapanlop yang juga sekaligus menjadi keynote speaker membahas perkembangan energy terbarukan di Thailand beserta beberapa policy yang telah dan akan diambil oleh pemerintah Thailand dalam rangka meningkatkan energy security mereka.

Acara dilanjutkan dengan pembicara utama Mr. Detlef Loy Direktur Loy Energy, Jerman dengan topic “Trends in renewable energy policy: Status 2008 and its relevance to SE Asia” pada kesempatan kali ini beliau membahas tentang perkembangan penggunaan energy terbarukan di Eropa serta perkembangan teknologi dan kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah Uni Eropa dan yang menarik beliau juga menyampaikan relevansi perkembangan di Eropa untuk diaplikasikan di Asia Tenggara beserta beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam perkembangan energi terbarukan di wilayah ini.

Pada sesi International and Regional Perspective sejumlah pakar menjadi pembicara diantaranya adalah Prof. Chou Siaw Kiang, Professor dan Executive Director, Energy Studies Institute, National University Singapore yang membahas tentang tantangan perkembangan energy terbarukan di kawasan regional Asia Tenggara ke depan. Dr. Chaiwat Muncharoen, Deputy Executive Director, TGO, Thailand membahas perkembangan teknologi energi terbarukan dalam rangka menanggulangi perubahan iklim, dan yang paling menarik di akhir sesi Internasional ini adalah pembahasan mengenai tantangan pengembangan biofuel ke depan antara persaingan kebutuhan energy dan pemenuhan kebutuhan pangan dunia oleh Assoc. Prof. Dr. Shabbir H. Gheewala dari sekolah saya JGSEE. Beliau memaparkan analisa yang mendalam melalui life cycle assessment perspektif menanggapi isu global pengembangan biofuel ke depan tersebut.

Berbagai isu menarik diselenggarakan pembahasannya oleh berbagai ahli di bidangnya dalam sesi paralel, oleh karena berbentuk paralel jadi saya tidak sempat untuk mengikuti semua materi dan diskusi yang terjadi. Sebelum acara selesai saya pun sempat menikmati pameran teknologi energi terbarukan dan lingkungan yang diselenggarakan sebagai bagian dari pelaksanaan REA 2008, berbagai teknologi unik dan baru dipamerkan oleh beberapa peserta yang sebagian besar datang dari Jerman.

Bagi anda yang tertarik untuk mendapatkan proceeding dari conference REA 2008 bisa anda unduh di link : http://www.thai-exhibition.com/renewableenergy/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.